Sabtu, 14 Juli 2012

Pemantauan PKH (program keluarga harapan)kec.ngebel





Guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat kurang mampu dan membantu anak-anak masuk sekolah, Kamis 14 Juli 2012 bertempat di aula kantor Kecamatan Ngebel berlangsung penyerahan bantuan Program Keluarga Harapan tahap 2 Kabupaten Ponorogo Tahun 2012.Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Ponorogo H. Amin, SH dan Asisisten 1 Sekretariat Daerah Kabupaten Ponorogo Ir. Endang Retno Wulandari, MM.  Program Keluarga Harapan (PKH) itu sendiri merupakan program pemerintah untuk membantu khususnya anak yang masih dalam kandungan agar bisa terpenuhi gizi dan kesehatan serta untuk membantu para orang tua yang anak-anaknya akan memasuki masa sekolah. Pemerintah berharap dengan adanya bantuan tersebut bermanfaat dan kelak nantinya anak-anak bisa menjadi harapan bangsa dan negara.
Dalam rangka pencaiaran bantuan Program Keluarga Harapan pemerintah melakukan kerjasama dengan PT. Pos Indonesia cabang Ponorogo yang diwakili oleh Taufik DM. Dalam laporannya beliau menyatakan bahwa di Kecamatan Ngebel jumlah penerima bantuan Program Keluarga Harapan tahap 2 sekitar 1.062 penerima yang tersebar di 6 desa masing-masing penerima mendapatkan antara 200 s/d 550 ribu yang mana PT. Pos Indonesia membantu dalam hal pencairannya.
Bupati Ponorogo H. Amin, SH mengucapkan terima kasih kepada PT. Pos Indonesia yang telah membantu dalam pencairan bantuan Program Keluarga Harapan dan beliau berharap agar bantuan tersebut bisa digunakan sebaik-baiknya oleh masyarakat penerima sesuai dengan kebutuhan. Dalam acara tersebut Bupati secara simbolis menyerahkan bantuan kepada 2 wakil masyarakat yaitu Martin dan Winarsih yang masing-masing mendapatkan 550 ribu.   

Selasa, 03 Juli 2012

KOntes Kambing PE Di HAlaman Bapeluh Ponorogo


       Ratusan ekor kambing peranakan etawa atau yang terkenal kambing PE , mulai
dari usia 6 bulan hingga kambing dewasa memperebutkan 4 kategori kontes. Yakni calon indukan dan calon pejantan serta kategori jenis indukan dan
pejantan.memenuhi lapangan BAPELUH Dinas Pertanian Pemkab Ponorogo,Ratusan kambing pejantan dan betina di pamerkan yang harganya mulai Rp 3 juta hingga Rp 30 juta .

        Salah seorang peternak kambing peranakan etawa,Sugeng (30) warga
Dusun Bentis, Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel yang datang ke Bapeluh
dengan membawa beberapa ekor kambing PE indukan memberi apresiasi terhadap
kontes kambing PE. Menurut Sugeng," kontes ini akan berdampak naiknya harga
kambing PE. Selain itu, mampu membakar semangat peternak untuk
memelihara kambing supaya bisa menambah kesejahteraan khususnya di Ponorogo ini,.

           Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan
Kabupaten Ponorogo, Harmanto menjelaskan dalam kontes kambing PE untuk
membangkitkan masyarakat bergairah memelihara kambing. "Bahkan,
berkumpulnya para peternak kambing inilah kami harap kambing PE bisa
jadi usaha menjanjikan dan ikon Ponorogo," tegasnya.

       

        Dalam acara tersebut juga diselenggarakan pameran produk-produk unggulan pertanian dan perkebunan dari seluruh
wilayah di Ponorogo dalam rangka memperingati hari Kridha Pertanian. SIS

Selasa, 08 Mei 2012

Pemimpin Baru Desa Pupus & Desa Talun Kecamatan Ngebel Kabupaten Ponorogo

Ponorogo, Investigasi

Pilihan Kepala Desa (Pilkades) yang dilaksanakan di Desa Pupus dan Desa Talun terlaksana dengan aman, pasalnya semua calon yang diharapkan dan dikehendaki warga setempat berhasil meraih suara terbanyak. Pelaksanaan  Pilkades pada tanggal 09 April 2012 juga sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat desa setempat yaitu Jurdil ( jujur dan adil ) . Sijo (43) calon tunggal Kepala Desa Pupus meraih suara terbanyak, apalagi Sijo mempunyai visi dan misi yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakatnya yaitu gotong royong membangun desa bersama masyarakat.

Tidak mau ketinggalan Waroto (34) kades terpilih desa Talun mempunyai visi misi dengan slogan, “ Menciptakan Perubahan Desa Talun Menjadi Lebih baik Dari sebelumnya”. Kedua calon terpilih juga berharap supaya masyarakat dapat rukun dan bisa berkerjasama untuk mewujudkan menjadi desa jadi lebih baik dalam sektor ekonomi, kenyamanan dan keamanan. Karena tanpa kebersamaan dan kerukunan sulit untuk mewujudkan harapan masyarakat, tegasnya.

Agus warga masyarakat desa setempat juga menuturkan pada investigasi agar setelah perhelatan pilkades selesai ia berharap agar masyarakat dan calon terpilih bisa bersatu lagi karena perbedaan pendapat atau pilihan sudah biasa. Jadi jangan sampai dijadikan permusuhan pribadi maupun kelompok , harapnya. ( GUS/NGO)  

Rabu, 18 Januari 2012

Pertama Kali di Indonesia, Kontes Raja Buah Durian Digelar

Durian sudah diakui sebagi rajanya buah-buahan. Tapi di atas raja selalu ada raja. Inilah dicari dalam kontes durian yang digelar Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo di Desa Ngrogung, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, Rabu (18/1). Yah, durian paling lezat di antara durian yang ada.

Setidaknya 25 jenis durian lokal di Kecamatan Ngebel ikut serta dalam kontes yang baru dua kali dihelat ini. Mulai dari durian Mrobyong, Kukusan, Utri, Gudel hingga durian Suro. Semuanya adalah varietas durian lokal yang dihasilkan oleh warga di enam dari delapan desa di kecamatan yang telah kondang sebagai penghasil buah berduri ini.
Dua desa tidak bisa ikut kontes sebab tanaman durian dari para petaninya belum berbuah. Yaitu dari desa Gondowido dan desa Pupus. Kedua desa ini baru sekitar empat tahun terakhir ditanami pohon durian di lahan kebunnya. Sehingga terpaksa absen pada kontes kali ini.

Cara penilaian dalam kontes ini terbilang unik. Setelah durian diberi nomor, durian akan ditimbang. Setelah itu, juri akan mencicipi buah durian. Setelah itu, durian dari bilah-bilah yang tidak dicicipi akan dihabiskan oleh para hadirin yang bersedia melahap lembutnya daging peserta kontes. Tapi, pongge alias biji durian dan kulit dari durian kontestan harus dikumpulkan untuk ditimbang lagi.

“Durian dinilai dari rasa, aroma, kelembutan dagingnya dan juga ketebalannya. Nah, untuk mengukur ketebalan inilah kulit dan biji harus dikumpulkan,” ungkap Puspita, juri dari Badan Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Dinas Pertanian Provinsi Jatim, kemarin.

Kepala Bidang Kelembagaan dan SDM Badan Penyuluh Pertanian Distan Kabupaten Ponorogo Marsudi menyatakan, kontes ini merupakan cara bagi Distan dan BPSB untuk mendapatkan varietas terbaik durian di daerah tersebut. Pemenangnya akan dilihat pengambangannya di kebun. Setelah memenuhi beberapa syarat dan kondisi, varietas ini akan dikembangkan sebagai varietas dalam sebuah kawasan.

“Tahun 2007, saat kontes durian pertama digelar, Durian Kanjeng jadi pemenangnya. Lalu setelah diteliti oleh tim BPSB, sekarang dikembangkan di lahan di Ngrogung ini,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Ponorogo Harmanto menyatakan pengembangan durian Kanjeng di Ngrogung telah mencapai 100 hektare pada 2011. Luas ini akan dikembangkan lagi menjadi 200 hektare pada 2012 ini secara bertahap. “DIPA-nya sudah turun. Tanah sudah siap tinggal pelaksanaan saja,” ujarnya.
Di Kecamatan Ngebel sendiri, saat ini tercatat terdapat 1.000 hektare lahan yang ditanami pohon durian berbagai varietas. Jumlah ini naik dua kali lipat dibanding kondisi sebelum tahun 2006. “Dulu hanya tanaman kebun rakyat biasa. Jumlahnya memang banyak, tapi kurang dikembangkan,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pertanian Ngebel Widodo.

Peningkatan jumlah dan variasi durian terjadi setelah BPSB melakukan prima tani atau program semacam kuliah kerja nyata di Ngebel selama tiga tahun, yaitu 2006 hingga 2008. Para petani yang disurvei pun akhirnya semakin pintar dalam melakukan rekayasa genetika pohon durian. Mulai dari menempel, sambung pucuk hingga top walking.

“Dari sini penyilangan dan peningkatan kualitas bisa ditemukan oleh petani sendiri. Nah, saat inilah banyak yang sudah mendapatkan hasil berupa panen pertamanya. Ya yang dikonteskan ini,” terangnya.
Jumlah pohon durian di Kecamatan Ngebel saat ini mencapai 35 ribu batang, naik dua kali lipat dari sebelum tahun 2006. Dengan produksi rata-rata satu kuintal durian perbatang pohon, maka tiap musim Ngebel dapat memproduksi setidaknya 3.500 ton durian berbagai jenis. Rata-rata adalah hasil silangan lokal karya para pwarga Ngebel sendiri.
“Rasanya sebenarnya mirip-mirip, tinggal ukuran dan ketebalan. Bukan berarti yang kecil dan tipi situ inferior, tapi setiap jenis ada peminatnya. Sebab, semua tergantung pasar. Ada yang suka durian besar, ada yang suka durian kecil. Monggo kerso, nawarin kekuatan kantong konsumen,” kata Widodo lagi.

Yang jelas, dengan kontes dan pengembangan yang terus menerus, harapannya anak cucu di Ngebel dan sekitarnya tidak asing terhadap buah durian. Harapan yang lebih besar adalah bisa menjadi pusat durian di Jawa Timur, bila perlu seantero Indonesia.

Selasa, 10 Januari 2012

Kecamatan Ngebel

Kecamatan Ngebel adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ngebel merupakan kecamatan yang memiliki objek wisata berupa danau atau disebut telaga dalam bahasa masyarakat setempat. Danau yang diberi nama sesuai kecamatannya, yaitu Telaga Ngebel. Ngebel sendiri terletak di kaki Pegunungan Wilis.
Berkas:Lokasi Kecamatan Ngebel, Ponorogo.png

Sabtu, 02 Agustus 2008

LEGENDA TELAGA NGEBEL


Ngebel sendiri berasal dari bahasa Jawa, ngembel‘ atau berair. Karena, jaman dahulu, ada seorang Wara’i atau orang yang sakti ilmu kanuragan dan ilmu agamanya melewati suatu daerah di kawasan Ponorogo dan melihat fenomena tanah yang berair itu. Maka sang Wara’i pun berujar;
Ana sak wijining jaman, tlatah iki kasebut Ngembel_Suatu saat daerah ini bernama Ngembel”
Tapi karena lidah yang salah kaprah dalam waktu yang lama dan turun temurun, maka Ngembel pun berubah menjadi Ngebel. 
Dongeng tersebut adalah sebagai berikut.
Jaman dahulu kala, ada sepasang suami istri yang tinggal di suatu kampung yang melahirkan anak seekor ular naga. Naga itu diberi nama BARU KLINTING. Melihat keanehan wujud Baru Klinting ini, mereka tak berani tinggal di kampung tersebut karena takut menjadi bahan gunjingan tetangga.Mereka pun mengungsi ke puncak gunung untuk mengasingkan diri dan memohon pada dewa agar mengembalikan rupa putra mereka ke wujud manusia.
Doa itu pun didengar. Syarat yang harus dilakukan oleh Baru Klinting adalah melakukan pertapaan selama 300 tahun dengan cara melingkarkan tubuhnya di gunung Semeru. Sayang, panjang tubuhnya kurang sejengkal untuk bisa melingkari seluruh gunung. Maka, untuk menutupi kekurangan itu, ia menyambungkan/ menjulurkan lidahnya hingga menyentuh ujung ekornya.
Rupanya, syarat untuk menjadi manusia tak hanya itu. Dewa meminta sang Ayah agar memotong lidah Baru Klinting yang sedang bertapa tersebut. Baru Klinting yang bersemedi tak menolak toh demi kebaikannya agar menjadi manusia.
Saat waktu bertapa hampir selesai, ada kepala kampung yang akan menikahnya anaknya. Kepala kampung pun sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, terlebih lagi soal hidangan. Konon, mereka akan menggelar pesta pernikahan yang sangat mewah dan sangat besar. Untuk menutupi kekurangan bahan makanan, secara sukarela warga pun membantu berburu di hutan. Ada yang mencari buah-buahan, ranting/ kayu bakar hingga hewan buruan seperti rusa, kelinci, maupun ayam hutan.
Sudah beberapa lama warga berburu,namun tak mendapatkan hasil buruan apapun
Tanpa sengaja, ada segolongan warga yang istirahat karena lelah berburu mengayunkan parangnya pada pokok pohon tumbang. Namun, alangkah kagetnya mereka ternyata parang itu malah berlumuran darah. Dari pokok pohon tumbang itu mengucur darah segar. Bahkan, mereka baru sadar kalau yang mereka tebas tadi bukan pohon tumbang tetapi ular raksasa/ ular naga. Melihat hal ini, warga pun beramai-ramai mengambil dagingnya untuk dimasak dalam pesta pernikahan tersebut.
Hari pesta pernikahan anak kepala kampung adalah hari berakhirnya pertapaan Baru Klinting. Benar saja, naga itu berubah wujud menjadi anak kecil. Sayangnya, si anak mengalami kesusahan dalam berbicara karena lidanya dipotong sebagai syarat menjadi manusia. Tak hanya itu, tubuhnya penuh dengan borok yang membusuk lantaran saat bertapa tubunya disayat-sayat untuk diambil dagingnya oleh warga sebagai bahan pesta.
Anak itu kelaparan dan memohon agar diberi makanan. Namun, tak satu pun warga yang memedulikannya. Warga malah mengejek dan mengusir anak kecil itu. Melihat nasib anak itu, seorang wanita tua merasa kasihan dan membawanya pulang. Lalu si anak diberi makan dengan lauk berupa daging yang diterima dari pesta kepala kampung. Si anak pun makan dengan lahap tapi dia tak mau memakan daging itu.
“Bu, tadi saya pikir sudah tak ada lagi orang baik di kampung ini. Rupanya, masih ada orang seperti Anda. Bu tolong siapkan lesung (kayu tempat menumbuk padi) bila terjadi sesuatu ibu segeralah naik lesung tersebut” Begitu pesan Baru Klinting selesai makan. Si wanita tua itu pun menuruti ucapan Baru Klinting tanpa banyak pertanyaan kenapa, Lalu, Baru Klinting pun kembali ke tempat pesta.
“Wahai warga semua, lihatlah di tanganku. Aku memiliki sekerat daging. Jika kau mampu memenangkan sayembara yang kuadakan, maka ambillah daging ini. Namun, jika kalian tak mampu, maka berikanlah semua daging yang kalian masak padaku” ucap Baru Klinting.
Warga pun mencoba satu persatu tapi semuanya tak mampu mencabut sebatang lidi tersebut. Sayangnya, warga tetap tak mau mengembalikan daging yang telah mereka masak.
“Lihatlah ketamakan kalian wahai manusia. Lihatlah ketidak pedulian kalian pada sesama, pada manusia yang cacat sepertiku. Bahkan kalian tidak mau mengembalikan hakku! Ketahuilah, daging yang kalian masak itu adalah dagingku saat aku menjadi ular naga. Maka, kalian berhak mendapatkan balasan setimpal!” Baru Klinting pun segera mencabut lidi tersebut.

Keanehan pun terjadi. Dari lidi itu mengucur air, terus menerus hingga menenggelamkan kampung tersebut.
Genangan air itupun berubah menjadi telaga, Sedang orang tua yang memberi makan baru klinting selamat karena naik lesung. Bahkan sejak itu pula, Baru Klinting berubah lagi menjadi ular dengan melingkarkan tubuhnya di dasar telaga yang bentuknya menyempit di bagian bawah itu.Saat ini, telaga itu masuk daerah Ngebel sehingga terkenal dengan telaga Ngebel.

cerita ini merupakan sejarah telaga ngebel sebagai salah satu icon dan tujuan  wisata para wisatawan di kabupaten PONOROGO
semoga menjadi bermanfaat bagi yang membacanya dan semoga dijadikan ilmu pengetahuan ....

Kamis, 02 Agustus 2007

PESONA

Telogo Ngebel, Kabupaten Ponorogo


Menurut cerita yang berkembang dalam masyarakat, telaga Ngebel mempunyai keunikan tersendiri yang didasarkan pada kisah seekor ular naga bemama “Baru Klinting”. Saat itu, sang ular sedang bermeditasi, secara tak sengaja dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dikonsumsi.
Tiba- tiba secara ajaib, sang ular tersebut menjelma menjadi anak kecil lalu mendatangi masyarakat dan membuat sayembara. Isi atau maksud sayembara itu adalah barang siapa bisa mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.
Anehnya, setelah sayembara itu berlangsung lama, namun tak seorangpun  yang berhasil mencabutnya. Lantas anak kecil itu sendirilah yang berhasil  mencabutnya. Dan dari lubang bekas lidi itu keluarlah air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk telaga.
Legenda Telaga Ngebel ini sangat erat dan memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Ponorogo. Konon, salah seorang Pendiri Kabupaten Ponorogo bemama Batoro Kantong, sebelum menjalankan syiar Islam di daerahnya. Batoro menyucikan dirinya terlebih dahulu di mata air dekat telaga, yang kini dikenal sebagai Kucur Batoro.

Panorama Ngebel Sangat Menakjubkan

Obyek wisata Telaga Ngebel berada di sekitar 26 km kearah utara-timur dari pusat Kota Ponorogo, tepatnya berada dikaki Pegunungan Wilis dengan ketinggian 750 meter diatas permukaan laut. Suhu ditempat wisata ini sekitar 20-26 derajad celcius, sehingga terasa sejuk. Dengan luas permukaan sekitar 15 km dikelilingi oleh jalan sepanjang 5 km. Telaga ini memiliki panorama alam yang menakjubkan, indah dan asri.
Sebenamya, Telaga Ngebel bisa menarik para investor untuk mengembangkan wilayah ini, sehingga ngebel dapat dipercantik dan bisa dijadikan ikon kedua di Ponorogo setelah kesenian Reog. Sebab, obyek wisata ini layak untuk dikunjungi dan dijual karena suasananya masih alarni, indah danasri.
Disamping panorama alamnya yang sangat aduhai, udaranyapun sangat sejuk apalagi bila diiringi angin semilir yang menyelimuti obyek wisata Telaga. Sehingga serasa pas dengan panorama yang asri nan indah mempesona ini otomatis bisa mematri hati para pengunjungnya. Ditambah lagi dengan pemandangan para pencari ikan yang sedang asyik menangkapi penghuni. telaga. Lalu, diseberang sana ada warung atau kedei dengan menjual atau sajian ikan bakar dari telaga kian menambah betah siapapun yang hadir di tempat ini
Telaga Ngebel memang memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri dibandingkan dengan telaga-telaga lain yang ada di Jawa Timur. Telaganya yang.indah dan anggun ini, dikelilingi rimbwmya pepohonan lereng gunung wilis. Dengan kondisi alarnnya yang eksotik inilah sehingga memi!iki prospek cukup baik bila dikembangkan, bahkan dapat dijadikan aset Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam meningkatkan perekonornian, khususnya bagi masyarakat sekitar obyek wisata itu sendiri.
Sebagai petunjuk jalan bagi para pengunjung, terutama pengunjung yang datang dari luar Ponorogo dapat menempuh melalui jalan raya Madiun-Ponorogo. Hanya saja, akses jalan ini cukup sempit, terjal dan berkelok-kelok. Tetapi, saat sudah mendekati telaga, di sepanjang jalannya dihiasi tanaman seperti hutan-hutan kecil yang cukup rimbun. Hal ini menunjukkan, bahwa Pemkab Ponorogo sangat serius dalam mengelola tempat wisata ini, terlihat dari banyaknya penunjuk jalan atau arah disepanjang jalan.
Keadaan jalannyapun rata- rata sangat bagus dan semua telah diaspal. Rata- rata pengaspalan jalannya dengan hotmix meskipun belum seluruhnya selesai. Begitu sampai di telaga, pertama mata memandang yang terlihat adalah pemandangan yang cukup indah dan didukung dengan udaranya yang sejuk, sehingga membuat hati dan pikiran terasa bebas dari segala masalah

.
Di kawasan wisata Telaga Ngebel, pengunjung tidak akan kesulitan untuk mencari makan atau buah- buahan. Karena di tempat ini semua kebutuhan pengunjung sudah tersedia, dan tempatnyapun berada di sepanjang areal telaga ngebel. Buah yang ada antara lain durian, manggis, dan pundung, alpokat, pisang serta nangka yang merupakan buah local dari sekitar ngebel. Setiap tahun, di Telaga ini diadakan ritual budaya yang berupa LarW1gan Sesaji yang penyelenggaraannya bertepatan dengan tahun baru Hijriyah/Tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro. Di moment inilah biasanya sangat ramai pengunjung yang datang ke telaga ngebel.
Bila masyarakat atau pengunjung ingin mengunjung Telaga Ngebel, tidak usah takut atau khawatir karena akses menuju kesana tidak sulit. Di ponorogo, sudah banyak Angkutan umum dan angkutan selalu tersedia dan siap mengantarkan pengunjung dari Terminal Ponorogo menuju Terminal Jenangan dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Untuk bisa sampai ke tempat wisata telaga, pengunjung juga bisa lewat atau ditempuh dari Madiun melalui Mlilir dan Dolopo.
Seperti daerah pegunungan lain, disepanjang jalan menuju ke telaga ngebel perjalanan kami selalu menyenangkan dan sangat menarik. Karena sejauh mata kami memandang, baik disebelah kanan maupun kiri jalan yang terlihat adalah hamparan sawah hijau bak permadani yang sangat menyejukkan mata, dan dipinggiran wasah itu berjajar pepohonan yang sangat rindang menambah eksotis pemandangan di kala siang hari. Begitu sampai di lokasi telaga ngebel, pertama- tama tanda yang bisa kita ketahui bahwa kami sudah sampai di ngebel adalah dari kejauhan sudah kelihatan pantulan air telaga yang berkilauan.
Telaga ngebel yang memiliki luas permukaan sekitar 1,5 km dan dikelilingi jalan sepanjang 5 km ini, menjadi sumber rejeki bagi masyarakat setempat mencari ikan. Sebab, di tempat ini banyak di huni aneka macam ikan khususnya ikan tawar. Disamping itu, telaga ini juga bisa membantu para petani ikan untuk mengembangkan perikanan ikan tawar dengan cara memasang keramba secara berderet-deret di dalam telaga. Setiap pagi dan sore, para pemilik keramba- keramba itu sibuk memberi makan ikan. Sampai saat ini, jumlah keramba yang terhampar di telaga ada sekitar 900 yang dikelola oleh 12 kelompok. Sedang Ikan yang ditanam atau dikembangkan adalah nila, wader, dan mujair.
Sementara bagi yang tidak memiliki keramba, telaga ini juga bisa dijadikan tempat untuk memancing yang menyenangkan. Aktivitas memancing di telaga ini banyak dilakukan masyarakat di waktu sore hari. Biasanya mereka duduk berderet eli tepi telaga, sambil menunggu kail-kail yang mereka pasang dimakan ikan.
Begitu juga saat mengitari telaga melalui lewat jalan darat yang ada di sekeliling telaga cukup menyenangkan. Tetapi, sekali- sekali cobalah berkeliling telaga dengan menggunakan bus air. Sebab, disana telah diseeliakan dua armada bus air dengan kapasitas 20 penumpang yang siap mengantar mengelilingi telaga dengan melihat keramba dari dekat. Tarif naik bus airpun relatif murah. Yaitu hanya dengan mengeluarkan uang recehan sebesar Rp 5.000 per orang, pengunjung bisa berkeliling menyusuri keluasan danau selama 30 menit. Pengunjungpun tidak usah kuatir tidak kebagian tempat, karena selain dua armada bus air, saat ini pemkap dalam hal ini Dinas Pariwisata Ponorogo juga sudah menyiapkan perahu sebanyak 13 buah. Perahu-perahu ini untuk antisipasi pengtmjung di akhir pekan tiba atau hari-hari libur lainnya.
Begitu juga bagi pengunjung yang tak ingin segera beranjak dari telaga dan ingin menikmati malam di tepi telaga, pengunjung bisa menghabiskan malam di penginapan. Sebab, di areal wisata ini juga sudah disipkan banyak penginapan ataupun hotel, tetapi kondisi hotel atupun penginapan di ngebel belum sebanyak dan se bagus di daerah wisata lainnya. Atau seperti di Telaga Sarangan, tetapi kondisinya cukup menyenangkan jika membawa keluarga dan menginap. Salah satu penginapan yang dekat dengan telaga adalah Pesanggrahan Songgolangit. Pengffiapan milik Pemkab Ponorogo ini memiliki sepuluh kamar. Setiap kamarnya disewakan dengan harga Rp 50.000 – Rp 75.000 per inalam.
Dengan hanya merogoh kocek Rp 2000,untuk tiket masuk, tidak mengherankan kalau banyak pengunjung yang datang ke Telaga Ngebel walau hanya sekedar duduk-duduk sambil menikrnati pemandangan. Menurut petugas peron masuk, setiap akhir pekan jumlah pengunjung mencapai 7.500 – 10.000 per bulan.
Selain itu, di hari-hari libm nasionalpun, Telaga Ngebel selalu diadakan panggung terbuka sehingga menambah antusias para pengunjung. Harapannya, dengan adanya panggung terbuka, maka jurnlah pengunjung meningkat “Bahkan jika ada event besar jurnlah pengunjung bisa sampai 20.000 orang. Seperti event Upacara Larung yang diadakan bertepatan dengan Grebeg Suro pada awal November Jurnlah pengunjung bisa mencapai 50.000 orang bahkan lebih. Dan yang datangpun, tidak hanya dari Ponorogo tetapi juga dari kabupaten lain yang terdekat,” ungkap Priyo Nugtoho, Kasie Obyek Dan Daya Tarik Wisata, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, Kabupaten Ponorogo.
Sebagai pelengkap, karena tidak lengkap rasanya jika berwisata tanpa mencicipi hidangan khas, pengunjng bisa mencicipi makanan khas ponorogo, sepanjang jalan menuju telaga. Di sepanjang jalan ini terdapat warung-warung sederhana sampai restoran.
Menurut data Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, jumlah warung sebanyak 40 buah dan restoran ada 15 buah. Pemilik warung dan restoran adalah penduduk asli yang tinggal di sekitar Telaga Ngebel. Sebagai pasokan menu utamanya yang mayoritas Nila, mereka membudidayakan ikan nila di keramba. Sehingga harga sepiring nasi dan ikan nila bakar yang dilengkapi lalap dan sambel tidak mencapai Rp 20.000,-.
Priyo menambahkan, dulu menu utama adalah ikan Ngok ngok yang hanya hidup di Telaga Ngebel sebagai pendamping tiwul. Nasi tiwul ? hmm .. …. ternyata makan nasi tiwul asik juga. Rasanya mak kletuss di mulut, karena sedikit agak keras, beda dengan nasi putih yang pulen. Membuat penasaran bagi pengunjung yang tidak pernah merasakan nasi ini. Sebab, menu ini sangat aneh banget dengan sebutan menu ikan Ngok ngok … berhubung ikan tersebut langka, maka sedang di budidayakan dan sekarang belum saatnya panen. Maka Tim Prasetya pun cukup puas dengan sajian ikan nila bakar plus sambel dan lalapan. Ternyata sambalnya pedesss banget, terpaksa minta tambah nasi tiwul, eh, .. . nasinya habis, . .. minta tambah ikan … eh ikan masih ada. Benar-benar lezat.yaitu hidangan nila yang disuguhkan dengan nasi tiwul. Menurut Kepala Dinas kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Ponorogo, Drs. Abas Kontoro mengatakan, setelah diadakan pengembanganatau pembangunan tempat wisata telaga ngebel, ternyata dampaknya sangat bagus. Sejak tahun 2010 kemarin, pendapatan wisata alam ngebel ini terus meningkatkan. Yaitu dari target, sebesar Rp 150 juta, saat ini sudah mencapai Rp 130 juta.
Untuk mudah mengetahui dan dikenal orang, bagaimana, dimana dan seperti apa keadaan telaga ngebel itu, maka Dinas Pariwisata Ponorogo terus gencar mengadakan sosialisasi tentang keberadaan telaga ngebel. Tak hanya itu, pembuatan brosur, booklet serta pembuatan website dengan dengan situs www. Ponorogotourism.co.id sebagai upaya untuk mempromosi objek wisata di Ponorogo. “Bahkan tak lama lagi kami juga akan menggelar grebeg Suro dan Larung Risalah Doa sebagai kegiatan rutin,” imbuhnya
Untuk melengkapi keberadaan telaga ngebel agar tambah asri dan baik, maka dilengkapi dengan beberapa objek wisata pendukung lainnya diantaranya Sumber Air Panas, Sumber Air Tiga Rasa serta air terjun Toyomarto. Namun, hal ini belum tersentuh secara optimal.
Abas Kuncoro mengatakan, selama ini hambatan utama yang dihadapi adaJah kurangnya dukungan infrastrnktur, utamanya akses jalan menuju area wisata. Selain itu, dari segi kepemilikanTelaga ini berada di atas tanah milik Perhutani, sedang pengaturan pengairana di bawah Dinas PU Pengairan Provinsi Jawa Timur dan masyarakat. Untuk menyatukan hal tersebut telah dilakukan koordinasi lintas sektor guna mencari titik temu kesepakatan.
Sedang harapan kedepannya, adalah ingin agar infrastruktur jalan karena hal tersebut merupakan sarana yang paling mendesak mempermudah calon pengunjung yang ingin datang kesana. Karena selama ini, kondisi jalan selain sempit dan berkelok-kelok juga sering terjadi longsor. Jika akses jalan baik, otomatis dapat meningkatkan kunjungan wisata sekaligus bisa mengundang investor dan mau masuk untuk menanarnkan modalnya guna menyemarakkan sarana dan prasarana. ” Tetapi harus ada catatan, bila investor masuk maka mereka harus mempunyai komitmen akan mengikutsertakan dan mau memberdayakan masyarakat setempat. Karena kedudukan wisata Telaga Ngebel berada di lingkungan penduduk asli,” tuturnya•